Kini di era MEA 2015 war for talent antar organisasi telah menjadi kenyataan di depan mata kita. Kebutuhan unit kerja, organisasi dan kepesatan peningkatan perusahaan tidak diiringi ketersediaan penawaran profesional yang sepadan. Hal ini mengakibatkan perang talenta memanas hingga ke level tertinggi. Persaingan perekrutan dan pembajakan talenta profesional bahkan menghadirkan praktik perang talenta di luar batas logika akal sehat. The demands for talent for exceeds supply. Manajemen talenta, tak pelak merupakan salah satu isu prioritas yang paling membuat pusing para eksekutif puncak dewasa ini
Tampilkan postingan dengan label hardskill. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hardskill. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Mei 2015

Bagaimana Membuat Pengembangan SDM yang Baik?

Tahapan pengembangan SDM sebaiknya dimulai dari tahap pertama, yakni identifikasi kebutuhan pengembangan. Dalam tahapan ini, kita sejatinya hendak menggali proses pengembangan apa yang paling cocok bagi individu tertentu. Dalam proses ini kita melakukan asesmen mengenai strenghts dan areas for development dari tiap individu (karyawan). Asesmen dapat dilakukan dengan melalui pola assessment center atau juga melalui observasi dan evaluasi dari atasan masing-masing (cara ini lebih praktis dibanding harus menggunakan assessment center).

Apakah Anda Ingin Menjadi Manajer HRD?

Penguasaan konsep Human Resource Department (HRD) dan kualitas kepribadian lebih menentukan keberhasilan seorang Manajer HRD ketimbang latar belakang pendidikannya. Konsep HRD membutuhkan dukungan kompetensi yang memadai dalam 4 aspek berikut:

1. Kompetensi Manajerial
Pengetahuan dan keterampilan bermanajemen sangat dibutuhkan seorang Manajer HRD. Keterampilan berkoordinasi merupakan kebutuhan mutlak karena peran HRD secara fungsional terhadap semua bagian di organisasi perusahaan. Cost consciousness (kesadaran terhadap biaya) juga merupakan bagian dari kompetensi manajerial.

Senin, 09 Maret 2015

6 kemampuan yang Harus diasah untuk Mengoptimalkan kerja Otak

1.Kemampuan Mendengar
Usahakan segala sesuatunya dimulai dari mendengar..
Kita mulai first stepnya dari sini ya,terus berlatih agar informasi dan ilmu dapat kita dengarkan dengan baik dan maksimal.Kemampuan mendengarkan yang baik dapat meminimalisir perolehan informasi yang salah maupun kesalah pahaman dalam input informasi.

2.Kemampuan berfikir
Ini sangat logis khan?setelah kita memperbaiki kemampuan mendengar,kita juga harus mengasah thinking power,kemampuan berfikir..Termasuk di dalamnya menganalisa,think probability atau kemungkinan,berfikir yang logis,tajam dan terpercaya(wah..kayak jargon di tivi..hehe)

Dengan berfikir yang baik,Informasi dan juga ilmu yg telah kita dengarkan,akan semakin efisien menjadi “isi otak”yang bermutu..

Apa sih manfaat Meningkatkan Kemampuan Otak?

Teman-teman tidak semua orang lahir dengan otak yang jenius, yang menurut banyak orang sebagai syarat untuk berprestasi. Itu tidak berarti bahwa kemampuan otak kita yang biasa saja tidak dapat berprestasi melebihi mereka yang cerdas dan jenius. Semua tergantung dari bagaimana kita memaksimalkan kemampuan kerja otak kita. Seperti halnya otot kita, semakin sering kita menggunakannya dan melatihnya, maka semakin besar dan kuat kemampuannya. Begitu juga dengan otak kita.
Jika kita ingin meningkatkan kemampuan otak kita yang meliputi kesadaran mental, peningkatan memori, dan peningkatan kewaspadaan, berikut adalah cara-cara mudah yang bisa kita lakukan:

Olahraga
Kita tahu olahraga baik untuk kesehatan tubuh kita. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa olahraga juga baik untuk otak kita? Lebih dari 20% darah dan oksigen yang mengalir dalam tubuh kita, dialirkan langsung dari jantung menuju otak.
Olahraga, terutama latihan kardio (jantung), secara efektif akan meningkatkan aliran darah ke otak. Selain itu kita juga bisa mencoba Yoga, dimana banyak posisi-posisi Yoga yang khusus untuk mendapatkan aliran darah dari jantung ke otak lebih cepat, dengan posisi kepala lebih rendah dari posisi jantung.
Namun jika kita tidak memiliki banyak waktu untuk berolahraga atau dalam keadaan tergesa-gesa, hal sederhana seperti membuka jendela ruangan dan mendapatkan udara yang segar, sudah cukup untuk memberikan kesegaran pada otak kita.

Minggu, 08 Maret 2015

Lebih Jauh Mengenai Otak Kita

Manusia adalah sebuah superkomputer seberat 1,5 kg. Sebagai pusat kontrol yang mengendalikan hidup, otaklah yang menentukan bagaimana cara kita berpikir dan berinteraksi dengan orang lain.

Otak manusia jauh lebih rumit dari komputer apapun dengan 100 juta milyar sel otak yang saling berhubungan satu sama lain. Mengoptimalkan fungsi otak adalah suatu keharusan jika kita ingin mengeluarkan potensi diri semaksimal mungkin. Sementara kita berolahraga atau melakukan yoga untuk menjaga kondisi tubuh, seringkali latihan mental menjadi terlupakan. Berapapun umur kita, latihan mental memiliki efek positif dan global pada otak kita. 22 cara untuk melakukan latihan mental:

1. Berlari untuk Sel Otak
Para peneliti mengatakan bahwa orang yang melakukan banyak latihan fisik mungkin memiliki otak yang lebih baik. Peneliti di Salk Institute menemukan bahwa tikus yang suka berlari pada roda latihan mengalami pertumbuhan sel-sel baru dua kali lebih banyak pada otak daerah memori dan belajar. Para peneliti belum yakin dengan penyebabnya tetapi ada kemungkinan bahwa hal ini dikarenakan oleh latihan fisik yang tidak dipaksakan. Yang artinya, dengan menemukan cara untuk menikmati olahraga daripada terpaksa melakukannya dapat membuat kita menjadi lebih pintar juga. Jadi lakukanlah olahraga yang kita gemari, lari pagi dengan musik atau fitness dengan teman-teman kita untuk lebih menyegarkan otak kita.

Senin, 23 Februari 2015

Managerialship: Pintar vs Bodoh

Jika kita ketik kata 'leadership' atau 'enterpreneurship' ke Google, maka akan muncul berjuta-juta artikel. Begitu juga buku-buku tentang itu, tersedia bertumpuk-tumpuk di toko. Tapi, coba masukkan kata 'managerialship' ke mesin pencari yang sama, cuma akan ada sedikit hasilnya, dan itu pun tidak memberi gambaran yang cukup jelas. Di toko buku? Sama sekali tidak ada buku tentang managerialship.
Managerialship adalah sifat-sifat dan sikap-sikap yang dibutuhkan bagi mereka yang ingin --atau, tersesat-- ke jajaran manajemen menengah ke atas. Ia membutuhkan sifat kepemimpinan sehingga bicara tentang managerialship memaksa kita untuk bicara juga tentang leadership. Jika kita berada pada posisi puncak manajemen, yang bertanggung jawab pada laba, maka kita terkadang harus melakukan fungsi-fungsi enterpreneural.
Selain itu, leadership dan enterpreneurship akan saya gunakan sebagai iluminasi agar sosok manajer lebih kentara.

Minggu, 28 Desember 2014

Mampukah Anda Memimpin Suatu Tim yang Tidak Anda Kenal?


Ketika Anda ditunjuk sebagai pemimpin untuk suatu tim yang tidak Anda kenal, apa yang akan Anda lakukan? Canggung? Tidak percaya diri? Atau bagaimana? Carolyn O’Hara, salah satu penulis Harvard Business Review, membagi pengetahuanya seputar apa yang perlu Anda lakukan ketika dihadapkan pada situasi tersebut.

Sebagai seorang pemimpin, Anda tidak bisa langsung memerintah tim Anda tanpa mengenal mereka lebih dalam dan membiarkan mereka mengenal Anda. Rekan satu tim Anda perlu mengetahui siapakah Anda, bagaimana definisi sukses Anda dan mempercayai proses yang Anda tawarkan pada mereka.

“Jika Anda tidak mencari tahu bagaimana caranya bekerja sama dengan rekan yang tidak Anda kenal, maka masalah akan terus menerus hadir. Lebih baik Anda memulai dari awal sebelum menyesal di akhir,” ungkap Mary Shapiro, seorang professor perilaku organisasi di Simmons College.

Selasa, 16 Desember 2014

Profesi HR: How High Can You Go?

Salah satu profesi yang terus dijadikan kajian dan diskusi di kalangan eksekutif adalah HR. Dibandingkan dengan fungsi lain seperti engineering, accounting, finance, marketing, production, manufacturing atau information technology, bidang HR merupakan bidang yang acap membuat pusing para petinggi.

Kebingungan dan kebimbangan pertama adalah siapa yang pantas dijadikan Chief HR (CHR)? Bidang lain dengan mudah dijawab. Umumnya berasal dari kandidat seprofesi. Bidang HR memiliki karakteristik yang berbeda yang membuat pemilihan itu tidak semudah bidang lain. Ada yang berpendapat bahwa CHR sebaiknya diisi orang yang pernah di bagian operasional sehingga dianggap mampu menjadi jembatan agar program HR menjadi ‘down to earth’. Ada pula yang berpendapat, CHR harus diisi oleh professional HR yang tumbuh dari bawah dengan asusmsi bidang ini memerlukan orang yang ‘people oriented’. Ada pula yang menganggap CHR adalah posisi ‘stepping stone’ untuk kandidat yang sedang disiapkan menjadi CEO. CHR adalah posisi ujian tingkat untuk menuju kursi CEO.

Minggu, 17 Agustus 2014

Lebih jauh mengenai Groupthink

Menurut I.L.Janis, groupthink adalah  proses pembuatan keputusan yang kurang baik, yang besar kemungkinannya akan menghasilkan keputusa yang merugikan.

dari anlisa-anlisa I.L.Janis, ditemukan bahwa ada tiga anteseden yang mendahului timbulnya groupthink:
  • Kekompakan kelompok yang tinggi,
  • Kesalahan struktural dalam kelompok,
  • Kurang ada tradisi kempemimpinan yang tidak memihak,
  • Kurang ada norma yang menuntut prosedur yang teratur,
  • Latar belakang sosial dan ideologi yang seragam dari anggota.



Gejala-gejala groupthink
Suatu kelompok yang sudah dihinggapi groupthink menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:

Mengulik Gaya Manajemen di Berbagai Negara

Manajemen adalah salah satu isu yang paling sentral sepanjang suatu organisasi atau perusahaan eksis. Banyak perusahaan yang menganggap manajemen adalah mesin penggerak tegaknya bisnis. Berbagai perusahaan menerapkan gaya manajemen yang berbeda. Kebijakan manajerial di berbagai negara pun cukup beragam. Sebagian besar faktor yang mempengaruhinya tak lain latar belakang kondisi sosial politik masa lalu negara yang bersangkutan. Di samping itu, tentu saja, karakteristik warganya yang spesifik juga mempengaruhi. Ada baiknya Anda menyimak sekelumit tipe-tipe manajemen yang berlaku di negara-negara besar. Selain sebagai perbandingan, mungkin juga dapat dijadikan landasan tipe manajemen mana yang paling cocok diterapkan di perusahaan Anda.

Rusia

Kamis, 17 Juli 2014

Aplikasi Gaya Manajemen di Berbagai Negara

Manajemen adalah salah satu isu yang paling sentral sepanjang suatu organisasi atau perusahaan eksis. Banyak perusahaan yang menganggap manajemen adalah mesin penggerak tegaknya bisnis. Berbagai perusahaan menerapkan gaya manajemen yang berbeda. Kebijakan manajerial di berbagai negara pun cukup beragam. Sebagian besar faktor yang mempengaruhinya tak lain latar belakang kondisi sosial politik masa lalu negara yang bersangkutan. Di samping itu, tentu saja, karakteristik warganya yang spesifik juga mempengaruhi. Ada baiknya Anda menyimak sekelumit tipe-tipe manajemen yang berlaku di negara-negara besar. Selain sebagai perbandingan, mungkin juga dapat dijadikan landasan tipe manajemen mana yang paling cocok diterapkan di perusahaan Anda.

Rusia
Negara yang terbentuk dari sejarah Uni Soviet, yang kini tinggal nama, rupanya masih mengusung pentingnya otoritas dalam suatu manajemen. Hingga kini, hierarki dalam perusahaan masih merupakan faktor penting, terutama dalam pengambilan keputusan. Meskipun dipandang tidak relevan lagi dengan iklim demokrasi saat ini, gaya manajemen ini relatif masih diperlukan, terutama pada perusahaan atau organisasi yang memiliki sistem yang baku dan ketat, seperti departemen atau organisasi pemerintah.

Selasa, 15 Juli 2014

MENGAPA MENGAMBIL KEPUTUSAN SELALU GAGAL?

Kesalahan Besar yang Mengakibatkan Sebuah Keputusan Gagal Total

Kesalahan Besar
Angka kegagalan yang besar mendorong munculnya banyak pertanyaan. Mengapa ada begitu banyak kegagalan? Apa yang menyebabkan kegagalan? Apakah langkah-langkah koreksi dimungkinkan? Jawabannya dapat ditemukan dalam tiga kesalahan: praktik pengambilan keputusan yang cenderung gagal, komitmen prematur, penggunaan waktu dan uang untuk sesuatu yang keliru.

1.  Praktik yang Cenderung Gagal
Orang menghabiskan sedikit waktu untuk memikirkan cara membuat keputusan.
 Setiap orang mengetahui bahwa partisipasi mendorong penerimaan, tetapi jarang digunakan.

Bila kita AKUR, suatu saat anak bangsa Indonesia dapat berada didalam daftar Top 50 Business Brains: Step Aside, Peter Drucker - it's Michael Porter


The most influential living management guru is Michael E. Porter, head of Harvard Business School’s Institute for Strategy and Competitiveness, according to the rankings of The Thinkers 50.
The Thinkers 50 ranking is based on the votes of 1,200 business people, consultants, academics, MBA students and visitors to the project’s website. Nonetheless, Professor Porter only just made it to the top. Had the ranking been compiled a few weeks earlier, the title would have gone to Peter Drucker for the third successive year. But the father of modern management died on November 11 at the age of 95...
The Top 50 Business Brains
1 Michael Porter (2)* Harvard strategy specialist
2 Bill Gates (20) Founder of Microsoft
3 C. K. Prahalad (12) LBS strategy man
4 Tom Peters (3) Leadership consultant
5 Jack Welch (8) GE’s ex-CEO and celebrity
6 Jim Collins (10) Author of Good to Great
7 Philip Kotler (6) Kellogg’s marketing guru
8 Henry Mintzberg (7) Promotes Managers not MBAs
9 Kjell Nordstrom & Jonas Ridderstrale (21) Funky Business exponents
10 Charles Handy (5) British portfolio worker
11 Richard Branson (34) Entrepreneur and Virgin flyer
12 Scott Adams (27) creator of Dilbert
13 Thomas Stewart (37) Intellectual Capital author
14 Gary Hamel (4) Strategy consultant
15 Chan Kim & Renée Mauborgne (31) Blue Ocean Strategy duo
16 Kenichi Ohmae (19) Japanese strategy master
17 Patrick Dixon (46) Futurist and change guru
18 Stephen Covey (16) Knows The 7 Habits of Highly Effective People
19 Rosabeth Moss Kanter (9) Harvard’s change manager
20 Edward De Bono (35) Lateral thinker and author
21 Clayton Christensen (22) Harvard’s new-tech guru
22 Robert Kaplan & David Norton (15) Balanced scorecard creators
23 Peter Senge (14) Learning organisation inventor
24 Ram Charan (-) Coach to the CEOs
25 Fons Trompenaars (50) Intercultural management man
26 Russ Ackoff (-) Specialist of systems thinking
27 Warren Bennis (13) Humanist leadership guru
28 Chris Argyris (18) Action and learning guru
29 Michael Dell (33) Dell Computer’s founder
30 Vijay Govindarajan (-) Tuck’s strategy innovator
31 Malcolm Gladwell (-) Blink and Tipping Point guru
32 Manfred Kets De Vries (43) Psychoanalytic economist
33 Rakesh Khurana (-) Harvard labour market guru
34 Lynda Gratton (41) LBS people and strategy guru
35 Alan Greenspan (42) Head of US Federal Reserve
36 Edgar Schein (17) MIT organisational psychologist
37 Ricardo Semler (36) Radical CEO of Semco
38 Don Peppers (48) Customer relationship man
39 Paul Krugman (40) Economist and columnist
40 Jeff Bezos (39) Amazon’s main man
41 Andy Grove (26) One of the Intel founders
42 Daniel Goleman (29) Emotional intelligence inventor
43 Leif Edvinsson (-) Professor of intellectual capital
44 James Champy (25) Advocate of re-engineering
45 Rob Goffee & Gareth Jones (-) Authentic leaders
46 Naomi Klein (30) No Logo author
47 Geert Hofstede (47) Cultural expert
48 Larry Bossidy (-) Chair of Honeywell
49 Costas Markides (-) LBS strategy professor
50 Geoffrey Moore (38) Hi-tech marketing man

Minggu, 29 Juni 2014

Meningkatkan Kinerja dengan Berinvestasi pada Diri Sendiri

Bosan dengan rutinitas, merasa tak berkembang di perusahaan tempat bekerja, dan ujung-ujungnya merasa mentok dengan karier. Itulah "lagu lama" yang diulang-ulang. Anda sendiri mungkin merasakannya, atau setidaknya mendengar teman mengeluh seperti itu. Siapa yang harus disalahkan?
Paling baik, tentu saja, instrospeksi dan koreksi diri: mungkin semua karena kekurangan kita, yang tidak mampu mengembangkan (potensi dan kompetensi) diri sesuai tuntutan perusahaan. Sebab, kalau dipikir-pikir, pastilah tidak ada perusahaan yang berniat menghambat karier karyawannya.
Namun, di sisi lain, tak ada juga seorang karyawan atau profesional yang mau "dituduh" tidak maksimal, atau kinerjanya tidak bagus. Semua orang pasti merasa bahwa dirinya telah bekerja dengan baik dan melakukan yang terbaik untuk perusahaan.
Terlepas dari siapa yang salah siapa yang benarkalau mau saling menyalahkan tak akan ada habisnyasebenarnya sudah "nggak zaman" bagi seorang profesional untuk mengharapkan pihak lain atau perusahaan bertanggung jawab atas pengembangan dirinya.
Menurut direktur dan pendiri Experd Eileen Rachman, yang menulis buku Jadi Nomor Satu: Terdepan di Era Persaingan, profesional yang berhasil adalah mereka yang meyakini bahwa tanggung jawab untuk masa depan dan pengembangan karier ada di tangan dirinya sendiri.
Kuncinya adalah investasi. Yakni, investasi pada diri sendiri. Dan, itu harus dilakukan terus-menerus. Investasi pada diri sendiri setidaknya meliputi:

Jumat, 20 Juni 2014

Meng-Update 9 Skill Manajemen HR


Ketika mewawancarai calon karyawan, seorang staf HR harus mengikuti sejumlah prosedur baku untuk menguji kandidat tersebut. Antara lain dengan mencocokkan keahlian-keahlian yang dimiliki oleh kandidat berikut karakteristik personalnya dengan persyaratan yang dibutuhkan untuk posisi pekerjaan yang akan ditempatinya.

Menguji untuk mendapatkan orang yang paling tepat untuk mengisi jabatan tertentu hanyalah salah satu dari keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang profesional di departemen HR. Pada dasarnya ada 9 keterampilan yang harus selalu di-up date oleh orang HR agar senantiasa siap menjalankan peran dan fungsinya sebagai mitra strategis bagi bisnis dalam mengelola karyawan.