Kini di era MEA 2015 war for talent antar organisasi telah menjadi kenyataan di depan mata kita. Kebutuhan unit kerja, organisasi dan kepesatan peningkatan perusahaan tidak diiringi ketersediaan penawaran profesional yang sepadan. Hal ini mengakibatkan perang talenta memanas hingga ke level tertinggi. Persaingan perekrutan dan pembajakan talenta profesional bahkan menghadirkan praktik perang talenta di luar batas logika akal sehat. The demands for talent for exceeds supply. Manajemen talenta, tak pelak merupakan salah satu isu prioritas yang paling membuat pusing para eksekutif puncak dewasa ini
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 November 2015

Perbedaan Pria Dengan Wanita Dalam Mengukur Kesuksesan

Kesuksesan bagi setiap orangnya pasti memiliki takaran serta ukuran yang bervariasi. Bisa saja seseorang beranggapan kalau kesuksesan yaitu mereka menduduki jabatan yang tinggi di tempat ia bekerja, membuat seseorang bisa berbahagia, memiliki sikap yang mandiri tanpa bergantung kepada orang lain, ataupun seseorang yang memiliki waktu yang cukup untuk bercengkrama dengan keluarga atau rekan kerja.

Sebuah survey baru yang dilakukan menyatakan bahwa makna dari kesuksesan bagi pria serta wanita memiliki pandangan yang berbeda serta cukup kontras. Dan pada kenyataannya pria dan wanita memiliki ukuran dalam kesuksesan yang sangatlah berbeda.

Minggu, 15 November 2015

Karyawan Industri Teknologi Kurang Tidur

Orang-orang yang bekerja di industri teknologi kerap kali mengalami gangguan tidur. Marissa Mayer mengakui bahwa ia bekerja hampir 130 jam setiap minggunya di Google. Mayer kerap kali ‘merapel’ tidurnya dalam satu minggu bahkan tertidur di mejanya ketika ia mengantuk. Lain lagi dengan Jack Dorsey, co-founder Twitter and Square. Dorsey pada tahun 2009 bekerja antara 16-20 jam setiap harinya, 8-10 jamnya ia habiskan untuk bekerja di kantor. Dorsey menyatakan bahwa ia tidak mendapatkan tidur yang cukup namun itu cukup bagi dirinya. Melihat kasus seperti ini, tidak mengherankan jika di perusahaan teknologi terdapat nap room ataupun nap pod.

Rabu, 22 Juli 2015

Hati-hati di Kursi Tertinggi

Di kantor seorang sahabat yang cara kerjanya demikian mengagumkan dan hampir
sempurna, ada sebuah kejadian menarik yang layak jadi cerita menarik. Kendati
boss di perusahaan ini bekerja dengan cara demikian sempurna dan demikian
mengagumkan, ternyata sekretarisnya bekerja dengan cara sebaliknya. Ketika
dimintai tolong untuk mengetik, banyak yang salah ketik. Tatkala dimintai untuk kirim
fax dan e-mail salah. Demikian juga dengan pekerjaan lainnya: salah, salah dan
salah.
Heran dengan realita kontras ini, saya bertanya ke sekretaris tadi: berapa tahun ia
sudah bekerja untuk boss di atas? Ternyata ia sudah bekerja enam tahun. Tentu
saja saya heran, bagaimana orang dengan cara kerja demikian bisa bertahan enam
tahun di bawah boss yang hidup dan kerjanya demikian sempurna. Didorong oleh
keheranan inilah, maka saya bertanya lagi: "bagaimana Anda yang cara kerjanya
demikian mengecewakan bisa bertahan enam tahun di bawah atasan yang demikian
sempurna?" Ternyata sekretaris tadi punya jawaban: "tapi saya punya kelebihan Pak,
saya tidak bisa hamil".

Jumat, 19 Juni 2015

Every Employee Matters

Sukses sebuah organisasi bergantung kepada SDM yang dimilikinya, dalam hal ini karyawan. Sebaik apa pun business plan serta visi dan misi sebuah organisasi, pada akhirnya karyawanlah yang akan menjalankan itu semua. Jadi memang tidak bisa dipungkiri, salah satu yang memberikan peran agar sebuah organisasi dapat berkembang adalah karyawan. Pertanyaan berikutnya, karyawan pada level mana yang berpengaruh?

Jawabannya
: setiap karyawan memiliki pengaruh dan peran yang berguna bagi tiap organisasi, tanpa memandang jam terbang maupun jabatan. Melainkan, lebih kepada peran dari setiap orang yang berbeda, yang mampu bekerja secara sinergis dan memberikan kontribusi yang positif.

Tindakan Kecil Tidak Dikenal

Di kota Liverpool Inggris, tempat John Lennon melahirkan kelompok musik yang pernah merubah sejarah dunia, saya pernah mengalami sebuah pengalaman kemanusiaan yang amat menyentuh. Setelah antre cukup lama di kantor imigrasi, guna memperpanjang visa isteri saya, lebih-lebih setelah mendengar orang di antrean depan ditanya dan dimaki sana-sini, hati ini sempat kecut juga. Belum lagi ditambah dengan stok tiket return yang batasnya hari itu juga. Plus tidak ada uang untuk menyewa hotel kalau terpaksa menginap. Begitu cekaknya keuangan, bekalpun membawa dari kota Lancaster yang berjarak sekitar empat jam perjalanan kereta api.

Rabu, 27 Mei 2015

10 Ribu Rupiah Membuat Anda Mengerti Cara Bersyukur

Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.
Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"

Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!"

Senin, 13 April 2015

Memprihatinkan, Indonesia Kekurangan SDM Berkualitas!

Tak disangka, perekonomian Indonesia yang tumbuh cukup bagus di tengah krisis ekonomi global, mempunyai masalah dalam hal sumber daya manusia. The Boston Consulting Group (BCG) melihat negara republik ini kekurangan tenaga kerja yang berkualitas. Jika tidak diatasi segera, lembaga ini memprediksi selisih permintaan dan penawaran akan tenaga kerja tersebut bakal melebar.

The Boston Consulting Group
Hal itu dikemukakan BCG dalam laporannya yang berjudul “Growing Pains, Lasting Advantage: Tackling Indonesia’s Talent Challenges.”
BCG melihat bahwa, saat ini, Indonesia sudah menghadapi kekurangan manajer tingkat menengah. Dan di tahun 2020, kesenjangan antara permintaan dan penawaran akan semakin tinggi, yaitu mencapai 56 persen. Padahal ekonomi Indonesia diprediksi akan masuk dalam 15 besar dunia dalam sepuluh tahun mendatang.


Senin, 16 Maret 2015

Managerialship: Pintar vs Bodoh HHmmmm.........

Jika kita ketik kata 'leadership' atau 'enterpreneurship' ke Google, maka akan muncul berjuta-juta artikel. Begitu juga buku-buku tentang itu, tersedia bertumpuk-tumpuk di toko. Tapi, coba masukkan kata 'managerialship' ke mesin pencari yang sama, cuma akan ada sedikit hasilnya, dan itu pun tidak memberi gambaran yang cukup jelas. Di toko buku? Sama sekali tidak ada buku tentang managerialship.
Managerialship adalah sifat-sifat dan sikap-sikap yang dibutuhkan bagi mereka yang ingin --atau, tersesat-- ke jajaran manajemen menengah ke atas. Ia membutuhkan sifat kepemimpinan sehingga bicara tentang managerialship memaksa kita untuk bicara juga tentang leadership. Jika kita berada pada posisi puncak manajemen, yang bertanggung jawab pada laba, maka kita terkadang harus melakukan fungsi-fungsi enterpreneural.
Selain itu, leadership dan enterpreneurship akan saya gunakan sebagai iluminasi agar sosok manajer lebih kentara.
Si Manajer harus orang pintar, itu benar. Itu syarat kedua yang harus dimiliki seorang manajer selain bisa memimpin. Bukan dalam arti pintar secara akademis, tapi pintar dalam hal melaksanakan tugas-tugas manajerial, semisal menganalisis, merencanakan, menyimpulkan, membaca situasi. Termasuk, pintar berinteraksi, negosiasi, membujuk, memaksa, menekan, berkelit, membual.

Jumat, 13 Maret 2015

KEPEMIMPINAN DALAM PEMAHAMAN KONSEP

Membicarakan persfektif manajemen berarti ada sesuatu yang ingin kita ungkapkan dimana disatu sisi manajemen berbicara seperangkat pengetahuan (apa yang harus dilakukan dan mengapa), keterampilan (bagaimana melaksanakan) dan keinginan (mau melakukan) tentang usaha manusia mencapai tujuan dengan memaksimumkan sumber daya yang tersedia secara produktif (efisein, efektif dan kualitas), sedangkan disisi lain persfektif membicarakan kemampuan berpikir strategis untuk melihat segala sesuatu di masa depan.

Kemampuan berpikir strategis merupakan kebutuhan bagi setiap pemimpin masa depan, tanpa kemampuan itu sangat sulitlah ia menerapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menggerakkan orang dalam usaha untuk mencapai tujuan yang diharapkan, oleh karena itu banyak pemimpin menguasai informasi tapi ia tidak mampu memanfaat informasi menjadi berguna.

KEPEMIMPINAN MENATAP MASA DEPAN

Menatap masa depan, kita akan selalu dikejutkan oleh gelombang perubahan, siapkah kita menghadapi tantangan abad baru ini yang sudah kita masuki dalam milenium ketiga, oleh karena itu terimalah perubahan itu yang sedang bergerak dari masyarakat informasi menuju ke masyarakat pengetahuan.

Sebagai jawabannya, tulisan ini kami susun sejalan dari hasil renungan untuk mengendalikan dorongan hati dalam memikirkan hal-hal yang sedang kita hadapi, untuk menempatkan hal-hal tersebut dalam persfektif yang diyakini kedalam pemahaman atas paradigma abad baru, manusia seutuh, dan kebiasaan yang produktif.

Melalui tulisan ini, kami mencoba untuk dapat mendengarkan intuisi kami dan mengutarakannya dari huruf menjadi kata-kata yang bermakna menjadi untaian kata paradigma abad baru, manusia seutuh dan kebiasaan produktif sebagai berikut, maka bila kata kita uraikan dari untaian huruf, maka yang dimaksud dengan :

KEPEMIMPINAN DALAM TANTANGAN ABAD 21

Titik perhatian yang hendak diungkapkan disini bukanlah sebagai seorang yang “futurism” seperti John Naisbitt, Alvin Toeffler dan sebagainya, yang mengungkap tentang “content futurism” artinya mengungkapkan informasi mengenai masa depan, melainkan dari sisi “proses futurism” artinya memikirkan pusat perhatian bagaimana cara memanfaatkan arti informasi itu menjadi bermanfaat dalam memasuki abad ke 21.

Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka disini akan mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan tantangan yang kita hadapi yang situasi tersebut dapat menjadi kekuatan, kelemahan, kesempatan dan hambatan sbb. :

PERTAMA, Mengapa kita membutuhkan pandangan untuk melihat masa depan kedalam persfektif manajemen ?

Dengan melihat masa depan akan dapat memberikan daya dorong melihat masa kini berdasarkan masa lampau agar kita selalu siap bersikap dan berperilaku yang bersifat “proaktif” sebagai keterampilan abad baru.

KEPEMIMPINAN DAN HARAPAN ORGANISASI DALAM ABAD INI

Apakah yang diharapkan oleh organisasi dari angkatan kerja mereka dalam abad ini ? Bagimana kepemimpinan dapat mempengaruhi dalam memenuhi harapan organisasi yang sejalan dengan tuntutan perubahan itu sendiri ?

Dari sisi keterampilan teknis dan ketrampilan komunikasi (berbicara, mendengar, membaca dan menulis), diharapkan dari para karyawan adalah :

• Menjadi proaktif dalam pekerjaan mereka dan karir mereka. Karena mereka 1) mengambil inisiatip dari pekerjaan saat ini, 2) menerima gerakan lateral untuk mendapatkan keterampilan beragam, 3) mengetahui diri sendiri dan meneruskan keinginan tahuannya, kemana mereka hendak pergi dalam organisasi, 4) mengambil resiko dengan pengembangan aktivitas baru dan menggunakan sistim suport untuk membantu mereka dalam pengembangan mereka, 5) memimpin diri sendiri dan menjadi siap terhadap perubahan.
• Menerima dan mengelola diri sendiri sehingga efektif dengan perubahan.

Minggu, 08 Maret 2015

Buatlah Kopimu Sendiri: Tips Tenang di Tempat Kerja

Dalam menyelesaikan pekerjaan kantor sehari-hari, ketenangan merupakan faktor kunci yang harus selalu diupayakan ada dalam diri setiap karyawan. Bagaimana bisa bekerja dengan baik bila diri berada dalam kondisi yang tidak tenang? Ketenangan pada diri seseorang tentu saja tidak hanya menyangkut ketenangan batin tapi ketenangan fisik juga tak kalah penting.

Banyak karyawan yang sebelum memasuki kantor sudah was-was duluan. Hati deg-degan, jantung berdebar-debar dan perasaan seperti diburu-buru. Seperti ada yang mengejar-ngejar dari belakang dan itu membuat orang jadi panik. Lebih-lebih, kalau sejak di perjalanan sudah ditelepon oleh bos dan diingatkan bahwa hari ini akan ada meeting penting dengan klien. Atau, misalnya hari ini adalah jadwal Anda untuk presentasi memperebutkan tender tertentu, maka sebelum sampai di kantor pun rasanya "kemrungsung", ada kekhawatiran akan gagal dan sebagainya sehingga mengganggu keseimbangan psikis dan fisik.

Bekerja Tanpa Rasa Sengsara

Anda merasa sengsara di tempat kerja?
Anda merasa berat setiap kali memulai pekan aktivitas rutin Anda pada Hari Senin.
Anda merasa tak (lagi) tertantang dan tak nyaman.
Atau, inilah yang Anda hadapi: bos yang galak.
Apakah sejumlah rekan kerja Anda menyebalkan?
Anda merasa apapun yang Anda lakukan dianggap tak pernah cukup.
Jika Anda terus bertahan dalam situasi-situasi seperti itu, bisa dipastikan lama-lama Anda akan membenci pekerjaan Anda.
Dan, membenci pekerjaan adalah sumber dari kesengsaraan dalam hidup.

Mengapa itu bisa terjadi?
Kenali sebab-sebabnya agar Anda bisa menghindari dan mengakhiri kesengsaraan Anda.

1. Terlibat dalam obrolan atau pergaulan dengan orang-orang yang selalu menemukan kesalahan dengan perusahaan, manajemen, customer dan rekan sekerja. Jika Anda berkubang dalam kesengsaraan, terus-menerus mendengarkan cerita-cerita tentang ketidakbahagiaan dan orang-orang yang mengalami kesulitan jelas tidak akan membantu Anda keluar dari kubangan itu. Ketidakbahagiaan itu menular. Menjauhlah untuk menghindari virus tersebut.

Senin, 23 Februari 2015

Kunci Sukses Ada pada Great People, Bukan Good People

Maverick dalam Bahasa Inggris berarti berpikir dengan cara yang beda. Hal itulah yang diangkat oleh buku “Mavericks at Work” karya William C. Taylor dan Polly LaBarre ini. Berdasarkan penelitian dan pengamatan yang dilakukan, ada empat hal yang menjadi ciri perusahaan “Mavericks”. Empat hal tersebut adalah membuat strategi yang berbeda dibanding kompetitor di industrinya, menjalankan bisnis yang bersifat terbuka, membangun ikatan yang kuat dengan pelanggan, dan investasi pada sumber daya manusia.

Bagi kalangan praktisi dan profesional HR, ada beberapa hal menarik dalam buku ini yang relevan untuk digarisbawahi. Pertama, soal menjalankan bisnis yang bersifat terbuka. Penulis buku ini menekankan bahwa setiap orang lebih baik daripada satu orang yang terhebat sekali pun. Banyak perusahaan besar yang dijadikan contoh kasus dalam buku ini, membuat kompetisi terbuka bagi semua orang untuk memberikan solusi bagi perusahaannya. Misalnya Goldcorp, sebuah perusahaan tambang emas di Kanada, mendapatkan ide untuk mengundang ahli geologi dan para ahli lainnya dari seluruh dunia guna menemukan tempat yang tepat untuk mengadakan eksplorasi. Dan, hasilnya luar biasa: banyak proposal masuk dari ahli dengan beragam latar belakang. CEO Goldcorp mendapatkan ide ini dari pengembangan Linux yang digagas oleh Linus Trovald dibantu para programer dari seluruh dunia
.

Jumat, 30 Januari 2015

5 Kesalahan Minor ini akan membuat kita Menyesal 10 Tahun ke Depan

Kebanyakan orang menyikapi hidup mereka, termasuk menyikapi karir mereka seperti sedang menyeberangi danau menggunakan sampan. Alias jangka pendek. Padahal sebenarnya, jika ditilik dari perjalanan panjang yang harus kita lalui, menentukan tujuan hidup atau karir lebih mirip dengan menyeberangi lautan.
Apabila kita hanya fokus pada aktivitas yang harus diselesaikan jangka pendek, bukannya tidak mungkin kita melakukan kesalahan-kesalahan minor yang besar sekali dampaknya untuk karir kita. Bisa jadi, kita mendarat di pantai yang salah, atau lebih buruk lagi, terdampar di karang yang terjal.
Nah, berikut adalah beberapa kesalahan berkarir yang kita lakukan sekarang dan akan menimbulkan dampak yang besar untuk masa depan karir kita:

1. Networking hanya terbatas di lingkungan kantor

Rabu, 28 Januari 2015

5 Alasan untuk Mengejar Passion

Oprah Winfrey pernah mengatakan, “passion adalah energi. Maka, rasakanlah kekuatan/energi yang timbul karena Anda berfokus pada sesuatu yang Anda sukai”.
Banyak orang yang berpikir bahwa mereka tidak bisa mencari uang dari apa yang mereka sukai, sehingga mereka enggan memulai. Biasanya, ada pemisahan antara passion dengan pekerjaan utama yang mendatangkan pemasukan secara rutin. Dengan begitu, ketika harus memulai proyek yang berhubungan dengan passion, mereka merasa kewalahan. Kecuali jika saat ini full-time job Anda sudah sesuai  passion Anda, maka ada baiknya untuk merancang ulang prioritas Anda. Jika memang memungkinkan, berikan prioritas lebih kepada apa yang menjadi kesenangan Anda dan kerjakan dengan bersungguh-sungguh.
Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita cukup jeli untuk mengamati, banyak sekali professional yang mengorbankan passion mereka untuk “bermain aman”. Dari waktu ke waktu, mereka mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya tidak mereka sukai dengan alasan agar dapur tetap mengebul atau bisa menikmati hidup yang layak dengan terpenuhinya kebutuhan hidup. Apapun dilakukan, termasuk mengesampingkan selera pribadi jika mengejarnya adalah sesuatu yang penuh risiko. Padahal, menuruti pasar dan menjadi karyawan tetap di bidang yang tak kita minati pun kita masih tetap bisa gagal. Jadi, mengapa kita tidak sekalian menggiati apa yang kita sukai dengan risiko yang sama?
Susie Moore, seorang Life Coach di New York City menulis di huffingtonpost.com, 5 mengapa kita perlu mengejar passion dalam menjalani hidup ini:

Minggu, 14 Desember 2014

Renungan Akhir Tahun bagi CEO Partner

Apa yang dipikirkan seorang CEO Partner sewaktu melakukan refleksi akhir tahun seputar dunia profesi yang digelutinya? Apa ukuran keberhasilan yang jujur mau dievaluasi dengan unsur PEMI? CHR adalah garda PEMI. Ini adalah sebuah ‘calling’ dari profesi yang berkaitan dengan Human Being dalam konteks kerja dan pekerjaan. Calling ini nilainya jauh diatas ‘career’ dan penilaian prestasi kerja dari pribadi seperti yang tertuang dalam kontrak kerja atau IPP atau KPI seorang CHR.

Kalau partner lain fokusnya pada products, services, hal fisik dari bangunan, keuangan dan infrastuktur teknologi informasi, CHR fokusnya pada kesuksesan manusia sebagai aktor utama kesuksesan finansial. Sukses material yang tertuang dalam ketiga aspek Balance Score Card seperti financial, customer dan business process harus muncul dari kesuksesan sumber daya manusianya.

Renungan Akhir Tahun

Refleksi akhir tahun merupakan saat yang paling menggundahkan sekaligus menggembirakan bagi saya pribadi. Kami sekeluarga sering melakukan secara bersama. Setelah mengikuti acara gerejani, kami kadang berdialog bersama sampai pagi. Kadang kami melakukannya di ruang makan, kamar hotel, taman atau ruang tidur utama.

Malam itu, atau sebenarnya lebih tepat disebut pagi itu, kami melihat kembali 365 hari yang lalu. Apa yang telah kami lakukan untuk membahagiakan orang lain? Apakah rencana dan tujuan tahun ini tercapai? Apa yang kurang dan apa yang lebih? Lalu renungan ditutup dengan apa yang kita akan lakukan bersama sebagai keluarga? Tema apa yang akan kami sepakati di tahun yang baru yang menjadi dasar pijakan bersama.

Selasa, 09 Desember 2014

7 Tanda Anda Stuck dalam Pekerjaan


Pernahkah Anda merasa stuck dengan pekerjaan Anda? Jika ya, maka hal ini merupakan hal yang wajar terjadi pada setiap orang. Namun terdapat beberapa kesalahan yang menyebabkan Anda merasa stuck dengan pekerjaan Anda. Apa saja hal itu? TheMuse.com memberikan pemaparannya bagi Anda.

1. Mengambil suatu pekerjaan hanya karena uangnya
Gaji yang tinggi untuk suatu posisi mungkin sangat menggoda Anda. Tanpa pikir panjang Anda langsung mengambil pekerjaan tersebut. Lalu tidak lama kemudian Anda merasa tidak senang saat menjalankan pekerjaan tersebut. Misalnya, Anda mengambil pekerjaan sebagai konsultan hanya karena bayarannya tinggi, namun Anda tidak dapat menyeimbangkan antara karir dengan hidup Anda. Lalu, bagaimana cara bijak untuk menghadapinya? Bonnie Diamond, konsultan karir di Right Management, menyarankan Anda untuk membuat rencana untuk keluar, budget dan timeline.

“Mungkin Anda bisa berkata pada diri Anda sendiri bahwa ’Saya akan bekerja keras dalam pekerjaan ini untuk dua tahun ke depan dan menyimpan gaji saya untuk mencari karir lain yang membuat saya lebih puas secara pribadi’’” Namun perlu Anda ketahui bahwa jika Anda tetap bertahan pada pekerjaan tersebut, Anda perlu membuka pikiran Anda.

“Cobalah untuk memperhatikan lingkungan kantor Anda, cari tahu project apa saja yang mereka miliki, mungkin di antaranya ada yang cocok untuk Anda,” tambah Victoria Crispo, selaku managing partner & career coach di Career Service USA.