Kini di era MEA 2015 war for talent antar organisasi telah menjadi kenyataan di depan mata kita. Kebutuhan unit kerja, organisasi dan kepesatan peningkatan perusahaan tidak diiringi ketersediaan penawaran profesional yang sepadan. Hal ini mengakibatkan perang talenta memanas hingga ke level tertinggi. Persaingan perekrutan dan pembajakan talenta profesional bahkan menghadirkan praktik perang talenta di luar batas logika akal sehat. The demands for talent for exceeds supply. Manajemen talenta, tak pelak merupakan salah satu isu prioritas yang paling membuat pusing para eksekutif puncak dewasa ini
Tampilkan postingan dengan label How to become different. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label How to become different. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2016

7 Cara Membuat Kesan yang Baik

Impressions are important: They leave an initial taste in people’s mouths that can remain prevalent for the entire relationship. If you are paranoid about what kind of impression you make, run through these seven list items and see if you are consistent with them; if you are, then you will probably expose the best of yourself. If not, then work to meet these standards.

1. Dress: The absolute first impression you will make on someone will be through your clothing, because that is what is seen from a distance, and cannot change throughout your meeting. Make sure to dress according to the situation-don’ t over or under dress-and maintain within the limits of good taste. If you aren’t sure if what you’re wearing looks good, ask people for an honest opinion. One last thought: always, and I mean always, pull up your pants.

2. Hygiene: Take a shower! Shave! Brush your teeth! You must be fully bathed and groomed before you meet with someone for the first time, because scruffy looking people generally don’t seem as neat and mature. Pay attention to the little elements like breath: keep a pack of mint gum with you wherever you go, and periodically check to make sure you aren’t killing bugs every time you breathe out. If you sweat heavily, keep a small stick of deodorant/Anti-Perspirant close, and if you notice you’re stinking you can freshen up. People notice the minutiae!

Minggu, 30 Agustus 2015

5 Perjuangan Terkenal di Tempat Kerja yang Hanya Akan Dimengerti Pekerja Wanita

1. Determination Comes Off as Bitchiness
In 2007, Glenn Beck blasted Hillary Clinton on his syndicated radio show as being a “stereotypical bitch.” Women in offices typically struggle with the idea that they are supposed to behave as the gentler sex. In the workplace, powerful women who choose to exercise that power are often categorized as being a bitch. When men exhibit that identical display of force, they are called strong, fierce and determined. When powerful women refuse to back down from a debate, or know exactly what they want and go for it, the bitch label gets pinned on them. Oftentimes, a woman in the office faces a choice of either being called a bitch behind her back or getting labeled as a pushover whom no one takes seriously.

2. Our Gender Is Called a Distraction

Rabu, 22 Juli 2015

Bekerja untuk apa?

“Saya bekerja di sebuah perusahaan swasta sejak sepuluh tahun lalu. Namun saya merasa hidup saya tidak mengalami peningkatan. Di kantor, karir saya tidak naik-naik. Padahal, saya merasa sudah sibuk bekerja keras, pergi pagi dan pulang malam. Saya seperti disibukkan dengan pekerjaan yang tiada henti-hentinya namun tak kunjung mendapatkan hasil yang diinginkan.”

Pernahkah Anda mendengarkan keluhan seperti itu? Atau, jangan-jangan itu lagu favorit yang Anda dendangkan setiap kali bertemu dengan teman lama yang tampak sudah lebih sukses. Siapa tahu?

Tapi, pernahkah Anda mencari tahu “rahasia” teman atau orang lain yang jauh lebih sukses dari Anda? Barangkali Anda memang perlu belajar dari mereka agar bisa berhasil seperti mereka.

Jumat, 12 Juni 2015

Six Thinking Hats: Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah

Six Thinking Hatshttp://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=chrysant-20&l=as2&o=1&a=0316178314&camp=217145&creative=399381. By Edward de Bono. Published by Back Bay Books. Revised and updated edition, 1999. Paperback. 173 pages. ISBN 0-316-17831-4 (pb). First published in hardcover by Little, Brown and Company, 1985.
The quality of our thinking will determine the quality of our future.”Edward de Bono
Six Thinking Hats atau Enam Topi Berpikir diciptakan oleh Dr. Edward de Bono. Premis yang digunakannya adalah bahwa otak manusia berpikir dalam beberapa cara berbeda yang dapat diidentifikasi, dan dapat dengan mudah digunakan kapan saja, sehingga dapat disusun sebuah cara terstruktur untuk mengembangkan strategi dalam berpikir.

Rabu, 27 Mei 2015

SIKAP MENTAL PROFESIONAL

KESERBA-BISAAN (CAPABILITY) Keserba-bisaan seperti halnya kelenturan dapat terus dikembangkan. Orang yang serba bisa cenderung mendekati berbagai situasi sebagai suatu kesempatan baru untuk belajar dan meningkatkan diri secara terus menerus. Setiap orang bisa memilih apakah akan menjadi serba bisa atau tidak melalui 5 ciri khas yang utama. Ciri-ciri khas Utama Keserba-bisaan (Capability) adalah sebagai berikut :

1. KEULETAN (ADVERSITY) Keuletan berarti mengatasi keadaan walaupun ada kemunduran, hambatan-hambatan atau sumber daya yang terbatas. Keuletan merupakan ukuran ketangguhan dan kegigihan. Keuletan juga berhubungan dengan kekuatan emosional dan kekuatan mental. Keuletan melibatkan perilaku yang akan menuju sukses akhir melalui upaya-upaya yang gigih dan pantang menyerah (never give-up). Sejarah penuh dengan contoh pribadi-priadi yang “Pantang Menyerah” yang beberapa diantara mereka lebih positif dan memiliki keyakinan diri yang tinggi seperti diantaranya : Jenderal Sudirman, Cut Nyak Dien, Soekarno, Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Mozart, Bethoven, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Senin, 13 April 2015

Mengembangkan Karyawan dengan Jurus Kungfu Panda

Film animasi Kungfu Panda yang sampai sekarang masih diputar di bioskop-bioskop di Jakarta karena larisnya, selain memberi hiburan yang menyegarkan juga merupakan sumber hikmah berlimpah yang bisa diambil manfaatnya bagi para manajer, trainer, atasan maupun pihak-pihak yang berkepentingan dalam mengelola karyawan. Anda yang kebetulan belum menonton film ini, atau bahkan yang sudah pun, mungkin jadi bertanya-tanya, bagaimana ceritanya sebuah film --animasi lagi!-- bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk mengelola dan bahkan mengembangkan karyawan?

Pada dasarnya, kisah film ini sederhana saja. Seekor panda jantan gemuk bernama Po digadang-gadang ayahnya untuk mewarisi pengelolaan bisnis restauran mie miliknya yang terkenal lezat. Suatu hari sang ayah pernah bilang, ada resep rahasia yang kelak harus diketahui oleh Po. Namun, harapan sang ayah berantakan karena Po tanpa tersangka-sangka terpilih (oleh takdir) menjadi Pendekar Naga yang harus menyelamatkan kehidupan desanya. 

Menjadi Pribadi yang Menarik dan Menyenangkan

Semua orang ingin disebut menarik, menjadi pusat perhatian, terkenal dan dikagumi banyak orang. Menjadi menarik dan menyenangkan merupakan obsesi kebanyakan orang. Menarik dan menyenangkan mencakup aspek fisik (lahiriah) dan non-fisik (meliputi: emosional, personalitas dan integritas pribadi). Banyak orang yang cantik, tampan, pandai dan kaya namun belum dapat dikategorikan sebagai orang-orang yang menarik dan menyenangkan dikarenakan adanya sesuatu yang kurang dalam diri mereka. Orang yang menarik dan menyenangkan membuat orang suka padanya dan selalu ingin dekat dan ingin melihatnya serta ingin berinteraksi dengannya. Orang yang memiliki daya tarik dan menyenangkan ibarat memiliki kekayaan yang tak ternilai harganya. Berbeda dengan kecantikan dan kepintaran yang pada hakekatnya merupakan sesuatu yang diberikan oleh Tuhan (given), menarik dan menyenangkan merupakan sesuatu yang dapat dipelajari dan distimulasikan dalam setiap aktifitas kehidupan kita sehari-hari (daily activity).
Untuk itu ada beberapa Kiat yang perlu diikuti dan dilakukan bila Kita ingin memiliki Kepribadian Yang Menarik dan Menyenangkan. Kiat-kiat tersebut adalah sebagai berikut:

Selasa, 24 Maret 2015

Jadilah "Driver"

Ini adalah judul sambutan dalam pidato saya di depan para wisudawan di University Pierre Mendez, Grenoble-Prancis hari Kamis, 28 Juni lalu. Hari itu, selain peserta dari Perancis, juga diwisuda lulusan MBA dari berbagai negara (termasuk dari China, Rusia, Brasil, dan Indonesia).

Menurut saya, bangsa yang hebat adalah a driver nation. "Driver nation" sendiri hanya bisa dihasilkan oleh pribadi-pribadi yang disebut "driver”. Jadi ada tiga hal yang harus dilakukan yaitu bagaimana men-drive diri sendiri (drive your self), men-drive orang lain (bawahan, staf atau drive your people), dan men-drive bangsa (drive your nation). Jadi "driver" itu apa? Bukankah di Indonesia ada jutaan orang yang berprofesi sebagai sopir? Kalau demikian bisakah Indonesia disebut sebagai a driver nation?
Tentu bukan itu yang saya maksud. Driver adalah sebuah sikap hidup yang membedakan dirinya dengan "passenger". Anda tinggal memilih, ingin duduk manis, menjadi penumpang di belakang, atau mengambil resiko sebagai driver di depan. Duduk di belakang, Anda boleh duduk sambil ngobrol, makan-makan, bercanda, bahkan ngantuk dan tertidur. Anda juga tak harus tahu jalan, tak perlu memikirkan keadaan lalu lintas dan tak perlu merawat kendaraan.

Self Driving, Mengubah Mental ‘Penumpang’ Menjadi ‘Pengemudi’

Guru besar Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali kembali mengeluarkan buku dengan tema “Change”. Kali ini ada dua judul yakni “Self Driving” dan “30 Paspor Di Kelas Sang Profesor”. Menurut Rheinald, pendidik dan telah empat kali terlebit dalam panitia seleksi calon pimpinan KPK, calon CEO, dan pajabat publik, saat ini Indonesia dihadapkan pada tantangan perubahan yang lebih menantang: revolusi mental.
Keberhasilan Indonesia sebagai bangsa yang besar ditentukan oleh kemampuan mengelola diri sendiri. Hanya dengan self driving, manusia bisa mengembangkan semua potensinya dan mencapai sesuatu yang tak pernah terbayangkan. Sedangkan mentalitas passenger yang ditanam sejak kecil dan dibiarkan para eksekutif, hanya akan menghasilkan keluhan dan keterbelengguan. Inilah yang diajarkan para CEO tangkas kepada kaum muda dan eksekutifnya agar keluar dari perangkap ‘passenger’.

Senin, 16 Maret 2015

Kunci Sukses Ada pada Great People, Bukan Good People

Maverick dalam Bahasa Inggris berarti berpikir dengan cara yang beda. Hal itulah yang diangkat oleh buku “Mavericks at Work” karya William C. Taylor dan Polly LaBarre ini. Berdasarkan penelitian dan pengamatan yang dilakukan, ada empat hal yang menjadi ciri perusahaan “Mavericks”. Empat hal tersebut adalah membuat strategi yang berbeda dibanding kompetitor di industrinya, menjalankan bisnis yang bersifat terbuka, membangun ikatan yang kuat dengan pelanggan, dan investasi pada sumber daya manusia.
Bagi kalangan praktisi dan profesional HR, ada beberapa hal menarik dalam buku ini yang relevan untuk digarisbawahi. Pertama, soal menjalankan bisnis yang bersifat terbuka. Penulis buku ini menekankan bahwa setiap orang lebih baik daripada satu orang yang terhebat sekali pun. Banyak perusahaan besar yang dijadikan contoh kasus dalam buku ini, membuat kompetisi terbuka bagi semua orang untuk memberikan solusi bagi perusahaannya. Misalnya Goldcorp, sebuah perusahaan tambang emas di Kanada, mendapatkan ide untuk mengundang ahli geologi dan para ahli lainnya dari seluruh dunia guna menemukan tempat yang tepat untuk mengadakan eksplorasi. Dan, hasilnya luar biasa: banyak proposal masuk dari ahli dengan beragam latar belakang. CEO Goldcorp mendapatkan ide ini dari pengembangan Linux yang digagas oleh Linus Trovald dibantu para programer dari seluruh dunia.

Minggu, 08 Maret 2015

Bermain Cantik di Tempat Kerja: Membangun Hubungan yang Efektif

Anda bisa meningkatkan karir dan hubungan kerja dengan perilaku yang Anda perlihatkan sehari-hari di kantor. Terlepas dari latar belakang pendidikan Anda, pengalaman maupun jabatan, jika Anda tidak bisa bergaul dengan baik dengan karyawan lain, Anda tidak akan pernah berhasil mencapai tujuan kerja Anda.
Hubungan kerja yang efektif merupakan titik awal bagi tercapainya sukses dan kepuasaan atas pekerjaan dan karir Anda. Di samping itu, hubungan kerja yang efektif juga bisa menjadi pijakan bagi atasan untuk mempromosikan dan menaikkan gaji Anda.
Sebuah studi membuktikan bahwa "memiliki teman baik di tempat kerja" merupakan satu dari 11 alasan utama yang mendasari seseorang merasa puas dengan pekerjaannya.
Mengingat pentingnya hubungan yang efektif di tempat kerja, berikut 7 tips yang bisa membantu Anda mewujudkan terjalinnya hubungan yang baik dengan teman sekantor.

1. Bring suggested solutions with the problems to the meeting table. Banyak karyawan menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk mengindetifikasi masalah-masalah. Anda bisa datang dengan solusi-solusi yang cemerlang untuk mendapatkan perhatian dan penghargaan dari teman dan atasan.

Perlukah kita me Re-Code Individu dan me Re-Code Organisasi?

Organisasi yang adaptif didukung oleh SDM dengan kadar change DNA yang tinggi. Change DNA pertama-tama harus diukur kadarnya (cek kadar OCEAN). Sifat dan perilaku manusia tersimpan dalam bentuk kode-kode (Change DNA) yang disingkat OCEAN (Openess to Experience, Consciousness, Extroverts, Agreeableness, Neuroticism). Untuk menghidupkan kadar Change DNA, perlu dilakukan re orientas OCEAN. Ada dua bagian yang perlu di Re-Code, yaitu manusia sebagai individu (Re-Code Individu) dan organisasi yang menjadi rumahnya (Re-Code Organisasi). Manusia bergerak karena pemimpinnya, maka change DNA pemimpin perlu di kode ulang (Re-Code The Leader).organisasi tidak hanya perlu di Re-Code desinnya saja (struktur, nuansa, linkages, boundary), melainkan juga kelompok-kelompok besarnya. Kelompok besar itu dibentuk melalui jaringa-jaringan yang disebut “The Critical Mass” (Re-code The Critical Mass). Merekut Change agents secara konvensional kurang efektif. Pusat pengkodean ulang perilaku-perilaku itu adalah cara berpikir yang menentukan cara bekerja. Ini adalah saatnya melakukan Re-Code Pikiran, dari hubungan yang berfokus pada kesalahan (problem based) dan pasif (you tell them), menjadi lebih produktif dan berorientasi pemecahan masalah (solution based) dan aktif (we ask them, they tell us). Jalankan berulang-ulang, maka terbentuklah keindahan manusia pada organisasi baru yang cerdas.

Hindari 20 Kata Inggris Ketika Kita Berada Di Beberapa Negara

Jika anda sering bepergian luar negeri untuk pekerjaan, atau jika anda mempunyai suatu e-commerce menyimpan dengan pelanggan dari seluruh penjuru dunia, sejumlah kata-kata berharga yang ada dalam Kata-Kata Bahasa Inggris yang secara fonetis, tidak dapat digunakan di negara-negara lain dan dapat yang kearah entendre ganda atau wilayah penyerangan tidak diharapkan.

20 kata-kata untuk membantu anda memastikan bahwa komunikasi titerjemahkan dengan arti yang tidak sesuai.

Perancis
Preservative (Bahan pengawet). Hindari menanyakan sekitar bahan pengawet di (dalam) Perancis; anda akan mungkin dialami nampak/wajah asing/aneh. Ini berarti ' kondom' di (dalam) Perancis.

Orang Norwegia
Pick (Memungut). Jika anda sedang mengunjungi Orang Norwegia, jangan menggunakan kata 'memungut'. Orang Norwegia, Rekan kerja tidak mungkin untuk terkesan- ini berarti 'anu' di sana.
Fitter (Pemasang). Apakah bisnis mu specialise di dalam produk kebugaran? Jadi sadarlah yang di dalam Orang Norwegia, kata itu 'fitte' mengacu pada suatu alat kelamin perempuan.

Senin, 23 Februari 2015

Dari Buruh ke Human Capital, Apa Bedanya?

Ungkapan buruh, pegawai dan karyawan pada dasarnya sama esensinya. Yakni mereka bekerja pada orang lain dan mendapat gaji secara reguler (harian, mingguan, atau pun tahunan). Hanya memang istilah buruh sering diidentikkan dengan pekerjaan level bawah, dan terutama diberlakukan untuk industri manufaktur (pabrik) dan pertambangan. Istilah yang sama juga sering dipakai dalam dunia politik (misalnya kita mengenal partai buruh di Inggris atau Australia). Di samping itu, "buruh" juga lebih familiar untuk mereka yang beraliran “kiri”, sebab para pendiri paham sosialisme semacam Karl Marx memakai istilah ini untuk mengkontraskan dengan pemilik modal (kapitalis).

9 Hal Tentang Karir Masa Depan

Jika Anda baru lulus --atau masih calon-- dari pendidikan tinggi, maka Anda sebenarnya tidak tahu banyak, seperti apa hari-hari yang akan Anda lewati di kantor --jika nanti Anda mendapatkan pekerjaan. Akan seperti apa pekerjaan Anda? Apa yang akan diharapkan oleh bos dan kolega terhadap diri Anda? Dunia kerja sedang mengalami perubahan dengan sangat drastis. Tipikal tempat kerja pada 2007 tampak sangat berbeda dari tipikal kantor pada 20 tahun yang lalu. Teknologi baru dan perubahan gaya hidup menuntut Anda untuk bekerja dengan cara yang berbeda dari orangtua Anda dulu.
Inilah kecenderungan utama yang perlu Anda cermati

6 Tipe Karyawan: Tugas Apa yang Cocok untuk Mereka?

Dalam lingkaran bisnis, istilah “alignment” menjadi pembicaraan penting, di mana secara mendasar bisa dimaknai sebagai upaya menyatukan berbagai aset yang ada untuk mencapai tujuan bersama. Dalam praktiknya, di level karyawan "konsep" tersebut berarti menyelaraskan individu dengan pekerjaan tertentu yang sesuai. Langkah pertama yang harus diambil dalam proses ini adalah mengetahui tipe-tipe personalitas yang kerap ditemukan dalam lingkungan bisnis, dan jenis pekerjaan apa yang cocok untuk mereka.
Salah satu ahli yang menekuni bidang ini adalah Richard Warner, pendiri Warner Design Associates di San Diego, California dan menulis buku All Hands on Deck: Choosing the Right People for the Right Jobs. Dalam buku ini, Warner mengidentifikasi 6 tipe personalitas yang bisa membantu manajer atau profesional HR untuk menempatkan karyawan pada posisi yang sesuai. Berikut 6 tipe karyawan tersebut --dan temukan apa pekerjaan yang cocok untuk masing-masing:

Rabu, 28 Januari 2015

Mengikuti Passion Bukan Jaminan Karir Berkelanjutan

Hampir-hampir di setiap buku self-development ataupun seminar tentang karir, disebutkan bahwa untuk menjadi sukses, satu poin penting untuk diingat adalah “follow your passion”. Ikuti apa yang menjadi passion kita dan kita tidak akan pernah merasakan “bekerja” karena setiap hari melakukan apa yang kita suka.
Monique Valcour, profesor management dari EDHEC Business School Perancis, mengungkapkan bahwa pameo tersebut memanglah sebuah nasihat yang baik, tetapi tidak untuk dijadikan panutan dalam mengembangkan karir.
“Nasihat ikuti passion kamu, kadang kala membuat industri bidang motivasi, baik buku maupun seminar, mengabaikan satu poin penting yang menentukan kesuksesan kita dalam karir. Self-awareness terhadap passion dan kemampuan yang kita miliki, hanya akan menjadi karir yang berkelanjutan apabila kita tahu caranya mengundang pembeli untuk karya yang kita hasilkan,” ungkap Valcour seperti yang ditulis dalam Harvard Business Review.
Bagi dirinya, karir yang berkelanjutan (sustainable career) adalah sesuatu yang ketika kita berkecimpung di dalamnya, kita dapat mempergunakan dan mengoptimalkan skill yang kita miliki, menciptakan tantangan bagi kita untuk berinovasi, tidak hanya sekedar menarik tetapi juga memberikan arti bagi kita. Di dalam karir tersebut, kita juga dapat terus melakukan learning and development. Selain itu, kita merasa bertenaga ketika bekerja, merasa bahwa kita memiliki competitiveness sehingga orang akan membayar mahal untuk itu. Terakhir, karir yang bagus adalah yang memungkinkan kita menyeimbangkan antara persoalan profesional dengan pribadi.
Jika saat ini kita masih kebingungan untuk menentukan karir apa yang tepat untuk kita kerjakan dalam jangka panjang, tips dari huffingtonpost.com berikut dapat kita jadikan acuan:

Jumat, 12 Desember 2014

Bedanya Sombong dengan Percaya Diri


Ada satu pernyataan yang menyatakan bahwa sombong dan percaya diri memiliki perbedaan yang sangat tipis. Namun sesungguhnya, perbedaan yang terjadi sangat jauh sekali. Lalu, bagaimana membedakan antara sombong dan percaya diri? The Muse Daily memberikan beberapa tips terkait hal tersebut.

Jadilah Apa Adanya
Mereka yang sombong sebenarnya tidak memahami apa makna percaya diri. Mereka yang sombong akan membicarakan orang lain. Hal ini disebabkan karena mereka berpikir, bahwa orang yang percaya diri akan melakukan hal itu. Selain itu, mereka akan mulai mengemukakan pendapat tanpa berpikir panjang, karena mereka berpikir bahwa orang yang percaya diri mampu membuat dirinya didengarkan oleh orang lain.

Jumat, 11 Juli 2014

4 Things You Thought Were True About Managing Millennials

by Amy Gallo, Harvard Business Review
 There seems to be an endless fascination with Millennials at work. There are studies, books, articles, blog posts, and white papers — all about what makes them so different from the generations that came before. And as they continue to enter and occupy the workforce, more and more is written about how they behave (or misbehave) at the office.
But are these cries actually true? Is managing them all that different from managing Gen Xers or Baby Boomers? Let’s look at some of the most common claims about Millennials.
They’re completely different from “us” at that age. False.
Peter Cappelli, the George W. Taylor Professor of Management at The Wharton School, has studied the research done on Millennials and says it comes up short. “There is no real serious evidence that there’s a generational difference,” he says.

Kamis, 19 Juni 2014

Are You An Effective Manager?


Dalam berbagai organisasi bisnis, fenomena seorang atasan atau seorang manajer yang ditakuti oleh bawahannya (sub ordinate) lantaran sang atasan mempunyai gaya manajemen yang sangat keras dan selalu ingin diikuti pendapatnya tanpa kompromi. Atau, mungkin fenomena sebaliknya di mana seorang atasan yang terlalu banyak kompromi dan tidak dapat mengambil keputusan sehingga kurang mendapat respek dari bawahan.
Seorang manajer yang baik dan efektif dalam konteks sebuah organisasi dituntut untuk tidak menjadi terlalu autocratic atau democratic. Kenneth Blanchard dan Spencer Johnson yang mengulas tentang menjadi seorang manajer yang efektif memperkenalkan pendekatang One Minute Management yang mutlak harus berisikan 3 hal yaitu: Goals, Praisings dan Reprimands.