Kini di era MEA 2015 war for talent antar organisasi telah menjadi kenyataan di depan mata kita. Kebutuhan unit kerja, organisasi dan kepesatan peningkatan perusahaan tidak diiringi ketersediaan penawaran profesional yang sepadan. Hal ini mengakibatkan perang talenta memanas hingga ke level tertinggi. Persaingan perekrutan dan pembajakan talenta profesional bahkan menghadirkan praktik perang talenta di luar batas logika akal sehat. The demands for talent for exceeds supply. Manajemen talenta, tak pelak merupakan salah satu isu prioritas yang paling membuat pusing para eksekutif puncak dewasa ini
Tampilkan postingan dengan label leaders in organization. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label leaders in organization. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juni 2015

Ten Signs of an Incompetent Leader

Poor leadership surrounds us, it’s a fact of life and they seemingly find a way to keep their jobs. They are more focused on their personal needs and not of the professional needs of those below them. They have a hard time developing their employees because they lack the proper management techniques to do so. A leader is someone who you would follow to a place you would not go alone. Leadership is about action not status.
However, the question is, how do we know when we are dealing with these flaw ridden individuals. A lot of the time, a poor manager can make the perception that he/she is busy and organized. I have developed a small guideline that can help pinpoint these leaders.
Incompetent Leaders will:

1. Delegate work rather than balance work loads. This allows all attention to be diverted from them in case of failure. It may seem to them that are managing their people but in actuality they are creating work imbalances within the group. It can create unnecessary overtime for some and under utilization of others. A good manager is aware of the skill sets of all the people below them and should allocate work accordingly while trying to enhance the skills of everyone to be even more productive.

Jumat, 19 Juni 2015

7 Hal yang Jangan Pernah Diucapkan ke Bos Anda

Pekerjaan dan segala risikonya sudah menjadi kewajiban Anda sebagai pegawai untuk menyelesaikannya. Mengeluh, bukan saja memperlambat pekerjaan tapi bisa membuat citra Anda di depan si bos jadi berantakan. Alhasil, bisa jadi Anda mengalami pengalaman terburuk selama berkarier.
Bersikaplah profesional, khususnya setiap kali Anda bicara dengan si bos. Selain merusak citra sendiri, kemungkinan naik pangkat pun akan melayang jika Anda berkata hal yang tak menyenangkan bagi si bos.
Untuk menghindarinya, berikut 7 hal yang jangan pernah Anda katakan di depan si bos:

1. Saya tak pernah main-main dengan tim kerja
Tak ada satu pun bos yang suka mendengar bawahannya tak serius dengan tim kerjanya. Para bos bergantung pada kerja tim yang efisien guna mencapai produktivitas yang terbaik guna mencapai target secepatnya.  Kerja tim sangat penting dalam bisnis apa pun dan orang-orang yang tidak serius hanya akan mengurangi efisiensi kerja tim.
Jika ada perbedaan dengan tim kerja, minta bos Anda untuk menyelesaikannya daripada Anda mengatakan Anda orang yang paling serius dalam tim. Saat Anda menemukan orang yang tak serius dalam tim kerja Anda, laporkan dan biarkan si bos yang menegurnya.

Jumat, 12 Juni 2015

5 Cara Dorong Karyawan Jadi Leader

Setiap organisasi membutuhkan seorang pemimpin untuk membuat keputusan yang krusial. Tidak hanya dibutuhkan dalam tugas–tugas penting, seorang leader juga mestinya hadir pada setiap aktivitas kerja karyawan. Karena itulah maka perusahaan penting mendorong semua karyawan untuk menjadi seorang leader yang baik. Bayangkan jika setiap karyawan mempunyai jiwa pemimpin, maka bisnis Anda akan berjalan lebih cepat, dan banyak waktu, uang bahkan tenaga  yang bisa disimpan. Berikut adalah beberapa saran yang bisa Anda terapkan untuk membuat karyawan Anda berani memimpin versi Peter Economy yang dilansir dari Inc.com:

Selasa, 19 Mei 2015

Mengungkapkan ‘ketidaklengkapan’ Anda

Perlu diketahui bahwa pemimpin tidaklah sempurna – kuncinya adalah bagaimana mereka mampu merampungkan pekerjaan terselesaikan padahal mereka memiliki keterbatasan. Pemikiran masa kini bahkan mengisyaratkan bahwa pengungkapan ‘ketidaklengkapan’ diri dapat menjadi kekuatan yang positif. Pemimpin yang mengungkapkan bahwa mereka kadang-kadang tidak tepat waktu atau pada dasarnya cenderung tertutup, memperlihatkan ketidaksempurnaan dalam diri mereka yang berkata ‘Pada dasarnya saya sama dengan Anda’. Dengan melakukan hal ini, seorang pemimpin juga melibatkan orang lain dengan membantu mereka mengatasi kekurangan tersebut, yang dapat membantu membangun kerja tim yang baik.
Ujian sesungguhnya bagi kepemimpinan tidak terlalu didasarkan pada seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi pada perilaku kita ketika kita tidak tahu apa yang harus dilakukan.

George Shapiro

Mengembangkan pemimpin

Menciptakan ruang untuk kepemimpinan
Jika Anda ingin membangun kapal, jangan panggil orang untuk mengumpulkan kayu dan jangan bagikan tugas dan pekerjaan kepada mereka, tetapi ajarkanlah mereka untuk merindukan luasnya laut yang tak berbatas

Antoine de Saint-Exupery
Beberapa teori kepemimpinan mungkin menyiratkan pengikut sebagai pribadi pasif yang menunggu munculnya pemimpin yang tepat untuk mengilhami dan memimpin mereka. Akan tetapi, di zaman sekarang, kepemimpinan yang berhasil lebih dikaitkan dengan kepemimpinan yang tumbuh, yang menyerahkan kekuasaan ketimbang menggunakannya, yang berbagi informasi dan berperan panutan dan pembimbing. Menciptakan ruang untuk pengembangan kepemimpinan di antara para pengikut atau di dalam tim Anda semakin penting. Sebagaimana dikatakan oleh Hughes(8), ‘Kepemimpinan merupakan urusan setiap orang dan tanggung jawab setiap orang’. Tantangan penting bagi pemimpin adalah kemampuan mereka untuk menumbuhkan dan mengembangkan pemimpin lain pada setiap tingkatan dalam organisasi, untuk mengenali dan mengasuh bawahan langsung potensial yang mereka miliki tetapi belum tentu mereka manfaatkan.
Kegiatan pengembangan
Seberapa ampuh Anda dalam membentuk pemimpin?

Sudut pandang seorang pengikut/follower

"Untuk memimpin orang, berjalanlah di belakang mereka"
Lao-Tzu
Selama beberapa tahun belakangan, semakin banyak perhatian ditujukan kepada hubungan antara pemimpin dan pengikut. Apa yang kita cari pada seorang pemimpin? Menurut bahan bacaan, yang dikagumi dan dicari adalah orang yang jujur, kompeten, berpandangan ke depan dan mengilhami. Ini tidak berarti bahwa pemimpin harus serba tahu. Menjadi pemimpin berarti memahami proses, apa yang dilakukan orang. Para pemimpin sering memimpin orang yang tahu lebih banyak daripada mereka, dan mereka pun mengakuinya dan berkata ‘Saya tidak tahu jawabannya’. Pemimpin tidak memegang monopoli atas pengetahuan. Setelah dijelaskan di bagian terdahulu bahwa terdapat hubungan yang unik antara orang yang memimpin dan para pengikutnya, bagaimana hubungan itu dapat dijelaskan? Goffee and Jones(7) mengusulkan bahwa pengikut mencari, menghargai dan mengagumi – dengan kata lain akan mengikuti – pemimpin yang membangkitkan tiga tanggapan emosional dalam diri mereka:

Kepemimpinan dan pengelolaan

Gambar di bawah ini menjelaskan pandangan yang biasa dianut tentang perbedaan antara pemimpin dan pengelola (Bennis 1989).
Secara sederhana, pemimpin merencanakan perjalanan atau arah perusahaan. Orang-orang perlu mengetahui arah yang dituju dan apa yang hendak dicapai. Pengelola mengidentifikasikan caranya. Kotter(6) berujar bahwa pengelolaan berarti mengelola kompleksitas dan kepemimpinan berarti mengelola perubahan. Dapat dikatakan bahwa pengelola mempengaruhi orang pada tataran rasional, sementara pemimpin bekerja paling efektif ketika mereka mempengaruhi orang pada tataran emosional. 

Kepemimpinan dibandingkan dengan pengelolaan

Perbedaan antara pemimpin dan pengelola berikut pekerjaan yang mereka lakukan sering menjadi pertanyaan. Para pengamat pada umumnya sepakat bahwa ada beberapa perbedaan yang menonjol antara pengelola dan pemimpin, terutama akibat peran yang mereka mainkan di dalam kelompok dan organisasi. Pengelolaan sering dianggap sangat berorientasi pada ‘tugas’; terutama dalam kaitan dengan upaya memastikan bahwa suatu tugas dilakukan secara efektif dan efisien. Sebaliknya, kepemimpinan mungkin dapat digambarkan sebagai ‘proses’ yang digunakan untuk menyelesaikan tugas, sebagai sisi manusia dari pengelolaan. Pengelolaan yang efektif dipandang sebagai dasar bagi keberhasilan dan efektivitas sebuah organisasi. Akan tetapi, yang menjaga kinerja sebuah organisasi dalam jangka panjang adalah kepemimpinan. 

Memimpin tim berkinerja tinggi

Penelitian oleh Redding(5) yang baru-baru ini di dibukukan memberikan beberapa panduan bagi kepemimpinan yang efektif untuk tim berkinerja tinggi:

  • Ciptakan rasa urgensi: tumbuhkan gairah untuk melakukan perubahan yang didasarkan pada kebutuhan bisnis dengan bukti kuat untuk menciptakan rasa urgensi.
  • Ciptakan lingkungan yang aman: di mana orang dapat mengakui bahwa mereka tidak serba tahu; melepaskan keyakinan yang telah lama dianut, mengambil risiko, bereksperimen, belajar dari kesalahan. Hal-hal ini tidak cukup sekadar diucapkan oleh seorang pemimpin, melainkan harus terlihat jelas dari tindakan dan perilakunya.

Memimpin tim yang efektif

Saya melakukan pencarian untuk menjadi pemimpin. Saya mencari di mana-mana. Saya berbicara sebagai pakar, dan orang pun mendengarkan saya. Tetapi kemudian ada yang lebih pandai dibandingkan saya, dan dialah yang diikuti. Saya berusaha untuk menimbulkan keyakinan tetapi orang-orang berkomentar, ‘Mengapa kami harus percaya Anda?’ Saya mencoba menampilkan citra pemimpin dengan wajah yang memancarkan percaya diri dan rasa bangga. Namun orang-orang berlalu lalang tanpa menghiraukan gaya anggun saya. Saya berlari mendahului yang lain sambil menunjukkan cara baru untuk mencapai puncak prestasi. Saya perlihatkan bahwa saya tahu jalan menuju kejayaan. Kemudian saya menengok ke belakang dan ternyata saya seorang diri. 

Mengelola kompleksitas

Penelitian oleh Hodgson dan White(1) menunjukkan bahwa tantangan penting bagi para pemimpin zaman ini adalah kemampuan mengelola ketaksaan dan ketidakpastian yang semakin meningkat. Ketaksaan dalam hal apa yang ada di lingkungan dan ketidakpastian sebagai perasaan yang timbul akibat kemenduaan ini, yaitu kurangnya kepercayaan diri dalam menghadapi ketaksaan tersebut. Mereka menekankan bahwa pengalaman masa lalu sebagai pemimpin atau manajer pada umumnya tidak dapat diandalkan untuk mengatasi masalah. Mereka menekankan bahwa pemimpin harus:
  • Menentukan fokus: pusatkan perhatian pada tugas dan prakarsa strategis yang harus disadari serta dianut oleh setiap orang di dalam organisasi.

Perubahan konteks kepemimpinan

Tidak diragukan lagi, tantangan kepemimpinan saat ini berbeda jauh dengan yang dihadapi 20 tahun lalu, atau bahkan 10 tahun lalu. Meskipun tuntutan dunia usaha tetap sama, aturan permainan telah berubah. Pencarian tentang apa sebenarnya yang ‘dikerjakan’ oleh para pemimpin dan apa kunci sukses mereka membuat para akademisi dan manajer sama-sama sibuk. Semua organisasi harus menghadapi lingkungan bisnis yang semakin tak terduga. Perubahan ekonomi, sosial dan teknik berdampak pada organisasi dan perorangan. Persaingan global yang semakin ketat, keadaan ekonomi yang turun-naik dengan cepat, deregulasi pasar, teknologi yang melebar dan keadaan politik yang tidak terduga telah menciptakan lingkungan usaha yang tidak pasti. Akibatnya, hakikat kepemimpinan yang efektif serta tuntutan yang dibebankan kepada para pemimpin pun berubah. Pengelolaan kompleksitas, inovasi dan pengelolaan perubahan merupakan tuntutan masa kini. Sejalan dengan hal ini, struktur organisasi turut berubah. Ketika hirarki dan susunan kekuasaan formal tergeser oleh struktur organisasi yang lebih mendatar dan tim yang mengarahkan diri sendiri, kepemimpinan lama bergaya ‘perintah dan kendali’ menjadi tidak relevan lagi. Gaya berlandaskan pemberian kesempatan dan pemberdayaan, yang lebih bersifat saling mendukung ketimbang memerintah, kini semakin diminati. Pandangan bahwa pemimpin yang efektif memimpin dengan menggabungkan rasa takut dan rasa hormat, telah digantikan pandangan lain, yaitu gaya memimpin yang menggabungkan rasa hormat dan kerjasama.

Minggu, 10 Mei 2015

Apakah Semangat Kerja Anda Terpengaruh Akibat Gaya Kepemimpinan?

Gaya kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap iklim kerja. Kondisi iklim kerja akan mempengaruhi kondisi motivasi dan semangat kerja karyawan. Jika gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi yang dihadapi dalam organisasi atau unit kerja, maka akan membuat iklim kerja menjadi kondusif, dan pada akhirnya akan memberi motivasi yang tinggi bagi karyawan untuk memberikan yang terbaik dalam mencapai target kerja (bahkan memberikan extra ordinary atau discretionary efforts).

Jumat, 13 Maret 2015

Management by Walking Around

Sebuah teknik manajamen "jadul" yang telah lama digantikan oleh teknologi komunikasi baru (email, chatting) kini mulai dilirik kembali. Sebuah perusahaan executive coaching di Amerika, ClearRock mencoba mengusung kembali management by walking around (MBWA) sebagai jawaban bagi perusahaan yang sedang menghadapi situasi ekonomi yang sulit.

Greg Gostanian, seorang pengelola-mitra pada ClearRock mengatakan, "MBWA adalah manajemen yang sejati." Namun, ia buru-buru menegaskan, untuk mendapatkan manfaat darinya, para manajer harus dilatih bagaimana mempraktikannya dengan benar. Kuncinya terletak pada kesiapan para pimpinan perusahaan untuk mendengarkan umpan balik dan pendapat dari karyawan.

Diingatkan, bisa jadi Anda sebagai pemimpin perusahaan atau jajaran manajer, tidak setuju dengan masukan dari anak buah. Jika tujuan Anda menerapkan MBWA hanya untuk menguatkan pendapat yang telah Anda yakini, lebih baik lupakan saja. Tujuannya harus lebih membuka kejujuran dan kontribusi dari karyawan. Jangan sampai karyawan merasa hanya boleh bicara yang baik-baik saja.

Jurus-jurus agar MBWA berjalan efektif:
1. Lakukanlah oleh diri Anda sendiri, jangan mewakilkan kepada asisten. Bicaralah dengan setiap karyawan secara individual, satu per satu.
2. Secara khusus, tanyakan pada setiap karyawan bagaimana kabar dan keadaan mereka, serta apa yang sedang mereka kerjakan.
3. Tumbuhkan pemahaman pada masing-masing orang mengenai peran mereka dalam proses bisnis, sehingga kontribusi yang mereka berikan akan lebih bermakna.
4. Cari tahu pendapat mereka mengenai kebijakan-kebijakan perusahaan dan dan hal-hal lain yang bersifat lebih umum berkaitan dengan kantor.
5. Jangan segan untuk memperlihatkan sisi kemanusiaan Anda --jangan melulu bicara tentang pekerjaan, tanyakan pada karyawan misalnya tentang anak-anak mereka.
6. Jika Anda menemukan seorang karyawan yang kinerjanya tidak bagus atau melakukan kesalahan, jangan memberikan kritik seketika itu juga. Siapkan situasi khusus untuk berbicara dengannya.
7. Penting artinya untuk memberikan penghargaan khusus bagi kontribusi-kontribusi tertentu yang juga bersifat khusus. Cara dan bentuknya bisa Anda pikirkan.
8. Kontribusi karyawan yang memberikan manfaat pada penghematan biaya, waktu dan hal-hal yang terukur lainnya perlu mendapatkan pengakuan khusus.


Minggu, 08 Maret 2015

Apakah Anda Seorang Transforming Leader?

Kita sudah terlalu sering mendengar ungkapan yang menyebutkan bahwa setiap orang adalah pemimpin. Seorang ayah misalnya, merupakan pemimpin sebuah keluarga. Oleh karenanya, kemampuan dalam hal kepemimpinan pada dasarnya harus dimiliki oleh setiap orang. Tidak hanya ketika Anda berada dalam sebuah kelompok atau berpasangan. Namun, Anda juga punya kewajiban untuk memimpin diri anda sendiri. Presiden dan CEO Consulting Resource Group (CRG) International, Inc Ken Keis adalah ahli di bidang Pengembangan Pribadi dan Organisasi yang telah berpengalaman selama lebih dari 17 tahun. Selama ini ia telah melakukan lebih dari 2000 presentasi dan menerbitkan 20 artikel serta lebih dari 40 desain managemen bisnis, kepemimpinan, atau sales proses. Dalam tulisannya yang berjudul "Are You a Transforming Leader?" ia mengangkat tema tentang kepemimpinan, tentang diri Anda dan kemampuan anda dalam kepemimpinan, bukan tentang teorinya.

Jumat, 06 Februari 2015

Apakah Anda Bos yang Baik?

Bos yang baik, dalam tilikan yang paling sederhana bisa dikatakan adalah bos yang bisa memberi kemudahan bagi karyawannya. Yakni, membantu menciptakan situasi yang memungkinkan karyawan bekerja tanpa rintangan. Sederhana bukan? Tapi, implementasinya tentu tak sesederhana itu. 

David Sirota, pimpinan Sirota Survey Intelligence, sebuah lembaga riset di New York memberi panduan lewat buku yang dia tulis bersama dua rekannya, berjudul The Enthusiastic Employee: How Companies Profit by Giving Workers What They Want. Apakah Anda termasuk bos yang baik, atau buruk? 

Mulailah dengan pertanyaan mendasar: Apa yang membuat seorang bos baik di mata karyawan?

Senin, 02 Februari 2015

9 Hal yang Diucapkan Pemimpin Hebat Sehari-hari

Kita tahu bahwa ucapan seperti layaknya sebuah jendela yang menghubungkan kita dengan komponen lain di kehidupan kita. Entah Anda menjadi pemimpin di perusahaan besar atau komunitas kecil, Anda perlu ucapan tersebut untuk menyampaikan pesan sehingga kepemimpinan berjalan secara efektif.
Beberapa pemimpin besar, dalam kepemimpinannya mengatakan hal ini dalam keseharian mereka, dikutip dari inc.com:

1. Begini situasinya!
Manusia selalu ingin tahu banyak hal, apalagi yang berhubungan dengan sekelilingnya. Jika tidak diberitahupun, mereka akan mencari tahu dan parahnya, kemungkinan mereka akan mengisi ketidaktahuan mereka dengan praduga. Ketika kita menyembunyikan sesuatu, sama halnya dengan kita merampas pencerahan yang seharusnya didapat oleh anggota team atau bahkan membuat mereka terlihat kurang dihargai. Founder Walmart, Sam Walton, selalu mengatakan “this is the situation” selama bertahun-tahun dalam mengelola Walmart, dan hingga kini, semua masih berjalan sangat baik.

CEO = Psikolog Perusahaan

Mungkin di kartu nama Anda tertulis bahwa Anda adalah seorang founder dan juga CEO dari bisnis yang Anda lakoni. Namun hal itu juga berarti bahwa Anda juga adalah promotor dari bisnis Anda, gambaran visioner perusahaan dan manager dari para karyawan, termasuk juga di dalamnya emosi mereka.
Bagi Yuriy Boykiv, CEO dari Gravity Media, agen periklanan global di New York, tugas yang paling penting yang diemban oleh seorang CEO yakni me-manage setiap individu dan emosi mereka. Boykiv mengungkapkan seperti dikutip dari Inc.com bahwa peran ia sebagai CEO di sini yakni untuk memastikan bahwa setiap karyawannya self-motivated, berada dalam kondisi mental yang sehat dan juga bahagia.
“Ketika Anda menjadi seorang CEO, mungkin Anda berpikir bahwa tugas utama Anda adalah mempromosikan perusahaan dan melakukan hal-hal besar bagi perusahaan. Namun saya menyadari bahwa 50% waktu saya sebagai CEO saya habiskan dengan menjadi psikolog bagi perusahaan, rekan bisnis dan juga karyawan,” ungkap Boykiv. “Anda harus mampu untuk me-manage perilaku, permasalahan dan mencari tahu sebab akibatnya. Baik itu di perusahaan, ataupun di karyawan Anda.”

Minggu, 01 Februari 2015

4 Esensi Seorang Pemimpin yang Rendah Hati

Kerendahan hati merupakan satu atribut yang esensial untuk seorang pemimpin hebat. Bagaimanapun juga, kita tidak akan pernah berhasil membangun sebuah bisnis apabila kita tidak mau mengakui kesalahan pribadi dan mengakui bahwa ada kontribusi orang lain dalam kesuksesan kita.
Sebagaimana diungkapkan oleh John Dame, CEO dari Dame Management Strategies dan Jeffrey Gedmin, CEO dari Legatum Intitute, dalam Harvard Business Review, kerendahan hati (humility) tidak ada hubungannya dengan sikap lemah, lembek atau ragu-ragu. Justru kerendahan hati mendorong loyalitas, membangun dan menopang teamwork yang padu dan produktif, serta dapat mengurangi turnover karyawan/staff.
Lalu bagaimana cara memunculkan dan menumbuhkan rasa rendah hati tersebut? Berikut adalah 4 tips dari inc.com:

1. Terbuka terhadap semua ide

12 Karakteristik Bos yang Buruk

Anda tipe bos yang seperti apa? Selalu membuat keputusan di saat yang tepat atau selalu benar dalam hal apapun? Infografik di bawah ini akan memberikan pemaparan mengenai karakteristik bos yang buruk. Jika Anda tidak ingin seperti itu, Anda bisa membaca pemaparannya lebih lanjut